Minggu, 14 Februari 2010

Act 06 : Blade of Olympus and Olympia

< Back to Homepage

Sudah tiga bulan sejak Penggalian dilakukan di kota Ardent. Banyak halangan saat menggali A.G.S. Rintangan pertama adalah temuan sebuah Komponen Batu yang sekeras Beton sehingga dua dari Driller kami patah. Untunglah Mako cepat bertindak dan mulai menggunakan sistem yang disebut dengan Solar Concentrated Laser System yang berhasil memecah unsur-unsur dengan panasnya Sinar matahari yang terkonsentrasi dan ditembakkan dalam suatau padatan yang jelas dalam terarah seperti laser.
Rintangan pertama selesai. Masuk ke rintangan kedua. Bentuk dari tanah yang terkandung pada komponen batu tadi sangat rentan dengan perlakuan fisik. Tapi, masalah ini di selesaikan Zimi dengan Explosive Arrownya dan Gumy dengan nulltimernya yang dapat membuat sesuatu terjadi lebih cepat atau lebih lambat sesuai dengan kehendak sang pengguna nulltimer. Dengan ledakkan yang terjadi di atas tanah menyebabkan sebuah gelombang panas yang cukup kuat untuk melelehkan lilin yang tentu saja berakibat dengan mencairnya tanah yang melindungi A.G.S.
A.G.S sudah mulai di angkat. Seluruh tubuh A.G.S telah terpasang sempurna dan sedang dalam proses pemograman ulang oleh para Specialist. Setelah diteliti, A.G.S ini bernama Olympia. Dalam legenda, para peri yang membuat A.G.S membaginya menjadi 3 kelas, yaitu Olympia, Shassison, dan Zerkar. Olympia terkenal dengan kekuatannya yang mampu menjadikan seluruh alam semesta luluh lantak oleh serangannya. Digunakan sebagai penyerang. Shassion terkenal dengan Agility yang bagaikan petir. Takkan bisa dilihat Walaupun menggunakan 10.000 x perlambatan. Bertarung sebagai pembantu penyerang. Dan Zerkar terkenal akan kekuatan Alam yang selalu mengikutinya kemanapun ia pergi. Takkan ada satupun yang terlewatkan karena Alam melihatnya. Biasa digunakan sebagai mata-mata, pengintai musuh, dan juga serangan-serangan yang bisa menjerat musuh.
“…Sebentar lagi…” gumam Mako. Olympia tersebut berdiri. Namun, seperti benda galian pada umumnya, A.G.S ini sangat kotor. Di selurh tubuhnya terdapat banyak sekali noda.
“Hei Mako!” teriak Diki. Mako menoleh ke arah teriakkan tersebut dan melambaikan tangannya.
“Diki! Coba kau kesini!” panggilnya. Diki pun pergi menghampiri Mako.
“Ada apa Mako?”
“Coba lihat A.G.S ini.” Perintah Mako. Diki pun mulai menginspeksi selruh tubuh A.G.S ini hingga ke kokpitnya. Dan saat ia menginspeksi kokpitnya, ada satu hal yang janggal.
“Mako! Nampaknya kokpit A.G.S ini hilang.” Teriak Diki.
Sudah kuduga…. Pikir Mako.
“MAKO!!!” Diki berteriak lagi. Namun lebih keras.
“I-iya!” Mako menjawabnya dengan gelagapan. Diki melompat turun dari kokpit A.G.S
“Jadi bagaimana Mako? Kokpitnya bisa dibilang sangat kosong. Hanya terdapat sebah Activator dengan sebuah tempat kosong berbentuk senjata pedang. Namun, activatornya tidak aktif sama sekali saat kutekan.” Lapor Diki.
“Hmm… berarti ini memang benar-benar A.G.S…” Kata Mako.
“Maksdmu?”
“A.G.S tidak seperti M.W.A pada umumnya. A.G.S memiliki kemampuan bersinkronisasi dengan sang penggunanya. Jadi, kokpitnya merupakan pikiran dari sang pengguna itu sendiri. Tapi, Menurut apa yang kau laporkan tadi, nampaknya A.G.S ini merupakan A.G.S yang disebut sebagai Commando Type.”
“Commando??”
“Iya, sebagai pemimpin pasukan. Apa bentuk senjatanya?” Tanya Mako.
“Sebilah pedang besar”
“Berarti dia merupakan Petarung yang sangat diuntungkan dengan senajata Blade.” Kata Mako.
“Tapi, bukankah A.G.S bisa memakai semua senjata?”
“Bisa, selama sang penggunanya bisa memakai senjata tersebut. Jadi, kalau sang pengguna hanya bisa menggunakan satu senjata, maka A.G.S pun hanya bisa memakai satu senjata.” Jelas Mako.
“Um.. aku mengerti… namn kenapa activatornya tidak berjalan?”
“Kemungkinan besar ia membutuhkan senjata Relic untuk aktif.”
“Relic….”
“Ah, aku punya ide yang bagus. Coba kau pergi untuk mencari Relic di reruntuhan dekat dengan Kota ardent. Pasti di sekitar sini ada yang mengetahui informasi tentang Senjata Relic tersebut. Bawa lah ini..” kata Mako seraya memberi sebuah Reciever. “Aku akan memberi tahumu bila aku mendapatkan sesuatu.”
“baik Aku pergi dulu!” Diki berlari meninggalkan Mako.
* * *
“Bagaimana Diki?” Tanya Zimi saat Diki sampai di kemah tempat mereka tinggal.
“Aku mendapat sebuah misi untuk mencari sebuah Senjata Relic agar A.G.S yang kita temukan dapat segera digunakan.” Jawab Diki.
“Heh? Kau tahu senjata relic itu?” Tanya Gumy.
“um… aku tak tahu.” Jawab Diki.
“Senjata Relic itu adalah senjata yang digunakan para peri dan manusia saat bertempur dengan Demon di daratan Verion pada pertempuran Dahsyat yang disebut dengan Perang Kebenaran. Senjata tersebut sudah lama tidak terdengar. Yang ditemukan mungkin hanya sisa-sisanya saja. Bukan pedang seutuhnya.” Jelas Gumy.
“Tapi kalau belum mencoba, kita tak tahu kan?” Tanya Diki.
“Iya sih… tapi kan…” kata Zimi.
“Aku tahu kau mau membantu karena kau yang paling tidak ada kerja saat penggalian berlangsung. Namun Senjata Relic merupakan senjata yang bisa dikatakan sebagai senjata Dewa. Perbandingan menemukannya adalah satu juta banding satu. Namun, katakanlah kau mampu menemukannya, namun saat kau memegang senjata tersebut, kau harus bertahan dengan kekuatannya. Apabila tidak sanggup, maka kau akan mati karena jiwamu akan terhisap oleh senjata itu. Kau jangan main-main!” Jelas Gumy.
“…. Aku tak takut.” Kata Diki.
“…”
“Baiklah. Katakanlah masalah yang kedua bisa kau tangani, namun bagaimana dengan mencarinya?” Tanya Gumy.
“aku akan mencari tahu ke seluruh kota. Mungkin ada seseorang di kota ini yang tahu akan tempat senjata Relic.” Kata Diki. Setelah mendengar perkataan itu, Zimi dan Gumy berdiri lal mengambil senjata mereka. “heh? Mau apa kalian?” Tanya Diki.
“Tentu mau menolongmu.” Kata Zimi.
“Yah, lagipula… aku takut kau akan tersesat.” Kata gumy.
Diki tersenyum. Bahagia sekali ia memiliki teman seperjuangan yang sangat setia. “Thanks!”
“baiklah, kita mulai dari bertanya ke seluruh kota. Aku akan pergi bertanya pada para penduduk, Diki akan bertanya pada para pemenrintah, dan Zimi akan bertanya pada Chief kota ini.” Perintah Gumy.
“Siap.”
“kalau begitu, ayo kita kerjakan!!” Teriak Gumy.
“YA!” Teriak Zimi dan Diki seraya meninggalkan kemah mereka.
* * *
Lima hari telah mereka lewati untuk mencari informasi tentang keberadaan senjata Relic. Belum ada satu pun yang mengetahui letak dimana senjata Relic. Mereka hampir saja putus asa gara-gara lima hari tanpa hasil temuan.
Saat mereka bertiga kembali ke kemah.
“Bagaimana? Kau menemukan sesuatu?” Tanya Diki.
Zimi dan Gumy menggeleng. Mereka bertiga hanya bisa menghembuskan nafas dengan berat, menandakan mereka sudah putus asa. Namun…
BEEP…BEEP…
“Suara itu…” Kata Zimi.
“Reciever ku!” teriak Diki seraya mengambil Reciever itu dari kantongnya. Ia lalu menekan tombol ‘Answer’, lalu sebuah layar maya muncul dari receiver dan mncul gambar Mako dari layar tersebut.
“Diki! Aku telah menemukan letak persis dimana senjata Relic itu berada. Letaknya di koordinat 543.456. Selatan dari kota Fuku. Kau akan menemukan reruntuhan peri bernama Ruin of Scandav. Berhati-hatilah di sana. Di informasikan bahwa banyak sekali monster buas menantimu.” Kata Mako.
“lalu, berapa lama kami akan kesana?” Tanya Diki.
“Aku telah memerintahkan para Ridebiker untk mengantarmu kesana. Kemungkinan kau akan sampai esok hari. Berhati-hatilah!” Kata Mako.
“Baik! Kami pergi dulu!” Kata Diki. Ia dan teman-temannya meninggalkan kemah mereka menuju pintu gerbang kota Ardent. Sesampainya di sana, terlihat tiga pengendara Ridebiker sudah menunggu mereka.
“Hey!” Teriak salah satu pengendara Ridebiker. “Kau yang bernama Diki?” Tanyanya sambil menunjuk ke arah Diki.
“Iya. Apa kau yang akan mengantarkan kam?” Tanya Diki kembali.
“Iya. Kami telah diperintahkan untuk mengantarkan kalian ke Ruin of Scandav. Ayo naik! Kita akan melewati jalan pintas agar sampai ke sana hari ini juga!” Perintah pengendara Ridebiker. Diki, Zimi, dan Gumy pun menaiki Ridebiker. Tak lama setelah mereka naik, pengendara Ridebiker tersebut menarik tuas gas sekeras-kerasnya. Ridebiker pun sontak melaju dengan cepat akibat gerakan spontanitas tersebut. Kedua Ridebiker yang lain pun tak mau kalah, mereka mengejar Ridebiker pertama dengan cepat. Tak ayal lagi, Diki dkk sering menjerit ketakutan dalam perjalanan menuju Ruin of Scandav.
* * *
Sesampainya di Ruin of Scandav, Diki cs muntah-muntah. Tentu saja pengendara-pengendara Ridebiker tersebut terheran-heran.
“Kenapa Kalian?” Tanya salah satu pengendara Ridebiker. Namun, mereka tetap saja muntah-muntah. Mungkin bosan atau kesal, para pengendara Ridebiker tersebut meninggalkan mereka bertiga. Lima menit kemudian, mereka berhenti muntah-muntah.
“hah…hah…. Wah, gila banget tuh sopir! Gua hajar juga pake pisau gua baru tahu!” Diki marah-marah sambil duduk. Melihatnya marah, mereka bertiga malah tertawa.
“hahaha… wajah marahmu itu aneh!” kata Gumy tertawa. Tak lama, sebuah batu melayang ke wajah Gumy. Telak. Menyebabkan hidungnya berdarah. “OI! APA MAKSUDMU?!” Gumy pun marah-marah.
“Mangkanya jangan ngehina gua dong!” Kata Diki sewot.
“Sudah!” Sela Zimi, sedikit tertawa. “Kita masuk ke dalam sekarang” Perintah Zimi. Diki dan Gumy bangkit lalu mengikuti Zimi ke dalam reruntuhan kuil. Saat pertama kali masuk ke dalam, mereka merasakan sesuatu yang sangat besar. Sesuatu yang mungkin bisa menghancurkan seluruh kota dan seisinya.
“Apa ini? Perasaan ini kok sepertinya sangat besar?” Tanya Diki.
“ini kekuatan Force. Pasti ada hubungannya dengan senjata Relic.” Kata Gumy sambil terus memegang hidungnya.
“Bisa jadi, ayo kita masuk lebih dalam. Mungkin kita bisa mencari tahu tentang itu” Ajak Zimi. Gumy dan Diki mengangguk. Saat mereka menjelajahi reruntuhan ini lebih dalam lagi, mereka menemukan sebuah ruangan besar. Saat masuk ke dalam ruangan itu, Mereka merasa sesuatu mendesak tubuh mereka. Sangat kuat! Entah apa itu namun sesuatu itu seperti menolak mereka masuk. Mereka pun memutuskan mundur sesaat.
“Nampaknya yang kita cari ada disini. Apa yang akan kita lakukan?” Tanya Gumy.
“Kita selesaikan dengan cara lama.” Kata Diki sambil menghunuskan pisaunya.
“Ada cara lain Zimi?” Tanya Gumy setelah menatap sinis pada Diki. Emang ga ada cara lain selain berantem? Bah!
“Mungkin kita bisa mendesak kembali kekuatan itu untuk sementara. Pasti ada sumbernya. Saat masuk, usahakan kita mengganggu sumber itu dan hancurkan saat yang mengontrol kekuatan itu.” Kata Zimi. Gumy hanya manggut-manggut. Diki malah melongo.
“Hah… Diki Diki…. Payah kali lah aku ngejelasinnya.” Kata Zimi. “Maksudnya, kita gunakan kekuatan Force kita sampai maksimal, lalu masuk ke dalam secapatnya, hancurkan sumber yang menahan kita. Lalu ambil senjatanya. Beres.” Diki baru mengerti.
“Ooh! Aku tahu!”
“Heh? Tadi tak ngerti! Sekarang baru! Dasar!” kata Gumy.
“Sudah-sudah. Ayo kita aktifkan kekuatan Forcenya!” ajak Zimi. Mereka lalu memegan sarung tangan force mereka. Mereka berteriak dengan sangat lantang. “FORCE AWAKE!!!”. Dengan sekejap, aura putih menyelimuti mereka bertiga.
“Ayo!” Kata Zimi. Gumy dan Diki mengangguk lalu mereka bertiga menrjang masuk ke dalam ruangan itu. Kekuatan dalam ruangan itu sangat kuat hingga kekuatan force mereka kalah. Namun, mereka terus menerjang kekuatan itu dengan sekuat tenaga.
“Zimi! Lacak asal kekuatan itu! Beritahu koordinatnya! Biar aku yang mengurusnya!” Teriak Gumy. Zimi mengangguk dan menggunakan kekuatannya. “EAGLE EYES!” sepuluh detik pencarian, ia menemukan sebuah mesin dengan Kristal force di tengah mesin itu.
“Kutemukan! Koordinat 23 dan 31! Elevansi 0,5! Sebuah mesin dengan tebal armor 2 inci.” Teriak Zimi. Gumy lalu merapal Blast Bomb dan sekejap, mesin itu terkena telak. Tentu saja semua kekuatan yang ada di ruangan itu hilang dengan sekejap.
“Lihat!” teriak Diki. Zimi dan Gumy melihat ke arah Tunjukkan tangan Diki. Sebuah Pedang biru yang besar. Ia melayang di atas altar. Diki cs mendekati pedang tersebut, namun tinggal beberapa langkah lagi, sebuah serangan menghantam mereka bertiga. Tak elak, ketiganya terpelanting. Zimi dan Gumy kena telak, namun Diki berhasil menangkisnya dengan pisaunya.
“Siapa di sana?” Teriak Diki sambil mundur mendekati temannya. Terdengar suara tawa dari seluruh penjuru ruangan ini.
“Hahaha… makhluk hina ini mau mengambil pedang suci Olympus? Jangan bercanda!”
“S-Siapa itu!? Keluar!” Teriak Diki. Kakinya gemetaran. Nampaknya ia ketakutan. Namun, bukan sesosok makhluk yang muncul, sebuah sihir bola api muncul menghantam tubuh Diki dengan sangat keras. Diki terpental dan menghantam dinding-dinding reruntuhan.
“Sebaiknya kau berpikir, manusia! Senjata suci peri menolak menjadi milik kalian!” Kata suara itu lalu menunjukkan dirinya, seorang peri! Diki berusaha bangkit dengan susah payah setelah menyadari siapa yang ia lawan.
“hah… jangan pikir serangan itu takkan membuatku menyerah” kata Diki. Ia melempar pisaunya ke arah peri itu, dengan sigap peri itu menghindar. Namun, Diki sudah berada di belakang peri itu. Peri itu berusaha menoleh.
“terlambat!” Teriak Diki sambil menyarangkan tinjuan keras tepat ke arah wajahnya. Peri itu terpental. Diki melihat teman-temannya. Zimi dan Gumy sudah bangkit. Diki menghela nafas.
“rupanya aku terlalu menganggap remeh. Kalau begitu, aku akan sedikit bermain serius.” Katanya sambil mengambil sebuah kertas. Ia melemparkan kertas itu. Kertas terbuka sambil menunjukkan isinya. Sebuah tulisan peri dengan tanda-tanda aneh.
“Isukaganoruda….mazusadamaru…iakatama…Hosa!” Teriak peri itu. Kertas itu meledak. Asap hasil ledakan itu memunculkan sebuah monster yang berbentuk seperti anjing dengan tiga Kepala. “Kuperkenalkan, Cereberus!” Anjing itu melolong keras. Dengan sekejap, anjing-anjing Simaka yang terkenal kejam muncul.
“Uhuk-uhuk… kondisi sekarang ini sangat berbahaya. Sebaiknya kita mundur.” Kata Zimi. Gumy mengangguk namun Diki diam terpaku.
“Diki! Apa yang kau pikirkan?” teriak Gumy. Diki tak bergeming. Kakinya bergetar. Tangannya mengenggam erat pisaunya yang hampir patah akibat skill Swapping body tadi.
“A-Aku…Aku..” Di ki menunduk. “Aku lemah.. Aku tahu aku lemah. Senjataku hanyal sebilah pisau kecil yang tak berguna. Namun,” Diki mendongakkan kepalanya. “Aku bukan pengecut yang akan mundur. Bahkan bila musuhku adalah dewa, aku takkan gentar. Dan siapapun yang melukai temanku…” Diki tiba-tiba berlari menuju kumpulan hewan buas itu. “AKAN MATI!!!!!!!!!!”
Diki maju menyerang kumpulan hewan buas itu. Saat maju pertama, seekor anjing simaka menyerang Diki, Diki mengelak dan mengcounternya dengan sabitan. Hewan itu terbelah tanpa ampun. Selanjutnya, dua ekor maju serempak. Mereka melompat. Diki melakukan slide Glider dan merapal body swapping lagi. Ia melempar senjatanya ke arah dua hewan itu dan menghantam mereka dengan pukulan beruntun. Tak terkalahkan. Saatnya semua maju. Diki mulai kewalahan namun tak kehilangan ide. Ia melempar pisaunya ke atas. Masih ada efeknya! Lalu tiba-tiba, CLASSSH! Pisaunya pecah. Diki Shock. Tak ambil banyak Waktu, Cereberus mengigitnya dan melemparnya. Diki terbang dan menghantam altar Senjata relic. Diki tak bisa bangun. Anjing-anjing itu berlari ke arah Diki. Sepersekian detik, Sebuah Panah meledak di atas senjata relic itu. Explosive Arrow! Zimi berhasil menarik perhatian semua hewan buas itu. Mereka menyerang Zimi dan Gumy.
“DIKI! BANGUN!!!” Teriak Gumy sambil merapal Mirror Shield. Namun Shield ini takkan bertahan lama, Teriakan pertama tidak membuat Diki bangun.
“Diki! Kau bisa! Bangun!” Teriak Zimi. Suara itu masuk ke relung hati Diki. Ia membuka matanya dan mengangkat tangannya. Sedikit lagi… Relic itu ada di atasku! Ia terus meraba-raba, mencari senjata relic itu. Ia menemukan sebuah pegangan. Ia memegangnya sekuat Tenaga.
“HEAA!!!” Teriak Diki. Aura menyelimuti dirinya. Ia bangkit. Tatapannya sangar. Alis matanya bertautan. Dari dirinya tampak seorang pembunuh haus darah mencari mangsa. Senjata itu dipegang dengan satu tangan. Walau kakinya terluka berat, ia mampu bangkit. Cereberus mengendus hawa pembunuh itu dan memerintahkan semua anjing-anjing itu menyerang Diki. Semuanya menyerang! Diki memegang senjatanya erat. Seekor anjing buas itu menyerang Diki. Tanpa ampun ia membelahnya, darah anjing itu mengenai wajahnya. Berikutnya, lima ekor menyerang bersamaan. Ia berlari ke dinding reruntuhan dan menggunakannya sebagai pendorong. Ia melakukan tusukan tajam kepada lima ekor sekaligus dan membantingnya ke tanah. Tak elak lagi, anjing itu mati seketika.
Saatnya Diki menunjukkan kegilaannya. Senjata itu mengendalikan kemarahannya. Ia berlari menuju sekawanan anjing buas itu dengan buas! Ia meminta darah! Anjing-anjing itu menggonggong ketakutan. Diki melompat, serangan Power Clash dikombinasikan dengan Hammer Stump mampu menggetarkan dinding-dinding reruntuhan tersebut. Anjing-anjing itu bertebangan ke atas dan dengan gerakan cepat, ia membelah tubuh anjing-anjing tersebut. Diki bersimbah darah. Wajahnya masih menunjukkan hasrat ingin membunuh. Aura yang menyelimutinya berubah warna, kini menjadi hitam kemerah-merahan. Duel Cereberus dengan Diki tak terelakkan. Cereberus melolong dengan keras. Diki terdorong namun ia mampu berhenti dengan menancapkan Senjata relic itu ke tanah. Cereberus belum berhenti. Ia membelah dirinya menjadi tiga bagian sehingga setiap tubuh memiliki satu Kepala. Mereka bertiga menyerang, Diki dengan sigap merapal jurus swapping body. Ia lempar senjata itu kelangit dan mengubahnya menjadi dirinya. Aura yang mengikat dirinya dan senjata itu menjadi sebuah rantai dan menghujam salah satu Cereberus, tepat di jantung! Namun, Cereberus yang lain menyerangnya! Ia terpelanting. Cerebrus akan menerkamnya, namun Diki berhasil melarikan diri dengan bantuan swapping body.
“Diki!!” teriak Gumy. Seekor Cereberus menyerang Gumy dan Zimi. Ia akan menerkam mereka berdua. CLASSSHH. Darah menetes deras. Anjing itu berhasil menerkam mereka. Tunggu! Bukan, ia menerkam Diki. Diki menjadi sangat marah. Auranya menggetarkan seluruh isi ruangan ini. Forcenya Mengalir deras! Ia memukul telak wajah Cereberus itu. Cereberus terpelanting. Matanya buta karena pukulan tadi. Cereberus itu kembali bersatu. Namun kali ini tubuhnya menjadi besar.
“KAU KIRA KAU BISA MENGALAHKANKU?!” Teriak Diki. “OLYMPIA!!!!!!!”
* * *
Di kota Ardent. A.G.S Olympia tiba-tiba hidup. Ia mulai mengaktifkan boosternya dan terbang melesat. Para Specialist kebingungan dan berlarian menyelamatkan diri.
Cereberus tak mau berlama-lama, ia akan memakan Diki hidup-hidup. Ia akan menerkam Diki. Namun Diki tersenyum. Tak lama, Olympia melesat dari langit dan menendang hewan berkepala tiga itu. Cereberus terpelanting. Diki mengangkat senjatanya. “RIDE-ON!”
Diki menghilang. Ia bersatu dengan tubuh A.G.S. Cereberus gelap mata. Ia menatap peri itu dengan tatapan marah. Peri itu mengerti. Ia memberikan kertas kepada Cereberus. Tak lama muncullah sesosok monster berbentuk manusia besar. “MAJU! HADES!”
A.G.S itu mengangkat tangannya. Sesuatu muncul, sebuah senjata pedang! Mirip dengan senjata relic tadi.
Gumy tak percaya akan hal yang ia lihat. Diki bersatu dengan A.G.S, Senjata Relic, kepribadian yang lain dari Diki. Namun ia masih punya tugas penting. Ia harus mengeluarkan Zimi. Zimi yang pingsan setelah menyelamatkan dan membangunkan Diki harus di bawa keluar reruntuhan ini karena akan ambruk akibat pertempuran dahsyat ini.
Diki bersiap dengan babak berikutnya. Hades mengangkat tangannya. Sebuah Aura Force berkumpul di tangannya dan menjadi sebuah padatan berbentuk bola. Ia melempar Bola Force itu ke arah A.G.S. A.G.S bersiap! Detik-detik krusial, A.G.S menebas Bola itu, Bola yang terbelah itu meledak. Hades tanpa ba-bi-bu, langsung melancarkan serangan. Ditambah dengan serangan Cereberus, A.G.S mulai terdesak. A.G.S yang sekarang di terkam Cereberus mengeluarkan kekuatan aneh. Dari mulutnya keluar sebuah gumpalan force berbentuk bola. Semakin lama semakin membesar. A.G.S dalam keadaan yang berbahaya! Cereberus melepaskan kekuatan tersebut. Bola force tersebut menghantam telak A.G.S. A.G.S terbawa arus kekuatan force yang sangat kuat. Tubuhnya rusak, tangan kirinya lepas. Cereberus ingin melepaskan kekuatan itu lagi untuk kedua kalinya. Kembali Cereberus membuka mulutnya. Bola Force berkumpul dalam mulutnya.
“Rasakan ini! FORCE DIVINE!”
DHUAAAARRRRRRRRR!!!!!!!!!
Sebuah ledakan besar terjadi di pertempuran tersebut. Gumy yang baru saja keluar dari Ruin terpana akan ledakan tersebut. Ledakan yang maha dahsyat tersebut menyisakan asap tebal. Saat asap itu menghilang, tampaklah di sana sebuah kawah besar yang di dalamnya ada A.G.S.
KRAK!
Katup palka A.G.S terbuka. Diki terjerembab jatuh ke tanah. Gumy yang sedang menggendong Zimi menghampiri Diki.
“Diki, Diki…. Kau tak apa-apa?” Tanya Gumy.
“……..I-iya…”
“Syukurlah, biar aku memanggil bantuan. Kau istirahat saja dulu.” Kata Gumy sambil mengambil receiver miliki Diki. Diki hanya tersenyum lalu tertidur.
***
Satu jam kemudian, Pasukan ke-5 dari battalion perang Xian datang menjemput Diki, Zimi, dan Gumy. Diki dan Zimi di bawa oleh para Whitesmith dan Aqua Wizard untuk di sembuhkan, sedangkan Gumy memberi laporan kepada Mako.
“Bagaimana dengan temuan di Ruin of Scandav?” Tanya Mako.
“Kami menemukan senjata relic bernama Olympus. Nampaknya itu kunci pengaktifan dari Olympia.”
Mako termenung sesaat, “Dulu, sebelum tanah Verion ini diciptakan, Para Dewa menciptakan dua ras yang akan mengendalikan dunia menuju kebaikan. Mereka adalah ras peri dan ras manusia. Namun, setelah beberapa lama mereka tinggal bersama, manusia mulai berulah dengan membunuh ras peri. Ras peri dan ras manusia yang tidak terima akan kekejaman itu bergabung dan membuat aliansi untuk mengalahkan manusia-manusia kejam itu. namun…”
“Ada apa?” Gumy keheranan.
“Aku ingin agar kau tahu. Kau adalah salah satu anggota dari tujuh clan penyihir terbaik di daratan verion ini. Dan aku ingin agar kau mengetahui kebenaran di masa silam.”
“Huh? Apa maksudmu?”
“Saat peperangan legendaris terjadi, manusia yang menolong peri terbunuh akibat senjata Relic yang dibuat oleh para peri. Ras Peri tidak mengetahui hal tersebut dan menyalahkan manusia yang terlalu lemah dalam menggunakan senjata Relic. Sedangkan ras manusia yang mendukung peri menyalahkan ras peri karena memiliki senjata pembunuh yang kejam. Ras manusia yang ingin melenyapkan peri menggunakan kesempatan ini untuk menghancurkan aliansi keduanya. Setelah aliansi hancur, maka ras peri punah.”
“Tunggu! Kami bertemu dengan seorang Peri di Ruin of Scandav. Apa ia salah satu dari ras peri yang selamat?”
“Kemungkinan iya. Kabarnya, Fenrir memiliki warga yang merupakan ras peri. Suatu saat, kita pasti akan ke sana untuk mendapatkan A.G.S berikutnya. Entah apa yang akan kita temui berikutnya… namun yang jelas… saat kau mengetahui kebenaran, maka tegakkanlah kebenaran itu.”


< Previous Next >